Ide yang Menyandera Potensi Pengadaan (Bagian Pertama)

 

 

“Sebuah ide itu seperti virus. Sangat menular. Bahkan ide sekecil apapun pun dapat tumbuh. Ia dapat mengakar untuk membentuk jati diri kita atau menghancurkan kita.” – Christopher Nolan, 2010

 

Ide membentuk pemahaman, pemahaman membentuk sikap, sikap akan membentuk prinsip dan karakter. Ide yang baik dan didengungkan secara konsisten dari sumber yang terpercaya akan menjadi mantra dan doa. Tentunya sebagai ahli Pengadaan yang profesional kita wajib menjaga kepentingan umum dan mengedukasi masyarakat mengenai profesi Pengadaan. Tujuannya agar ide yang berkembang di masyarakat itu sejalan dengan aqidah/kredo yang benar. Pemahaman yang benar otomatis mendukung realisasi potensi suatu profesi untuk kepentingan pembangunan peradaban sesuai dengan purpose/makna dan DNA profesi. Lihat Artikel pak BAS mengenai purpose dari profesi Pengadaan. 

Saat ini ada jurang pemisah yang cukup besar antara pemahaman nilai dari profesi Pengadaan di sektor swasta dan sektor publik. Kita mulai dulu dari fakta kesamaannya. Lalu apa yang menjadi perbedaan paradigma, fakta dibelakang masing-masing paradigma, dan rekomendasi komunikasi massa melalui tagline dan strategi konten di media sosial. Artikel ini adalah bagian pertama dari tiga artikal yang menjadi ‘call for action’  dari redaksi GreatProcurement.com agar kita meningkatkan pemahaman publik mengenai potensi dari Pengadaan yang profesional dan termodernisasi. Semua dimulai dari peningkatan fungsi pengadaan kedalam peran yang strategis.

Faktanya, tidak bisa dipungkiri bahawa Pengadaan memiliki nilai strategis cukup dilihat dari proporsinya pada struktur belanja.

Pengadaan baik Pengadaan dari entitas laba atau nirlaba atau dari sektor publik atau swasta adalah belanja terbesar setelah gaji pegawai. UK National Health Service (NHS) yang merupakan BPJS Kesehatannya Inggris mencatat 30 persen dari anggarannya adalah anggaran pengadaan. KPK dan Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) mengestimasi 45 persen dari APBN/APBD adalah belanja Pengadaan barang/jasa. Bahkan dalam industri penerbangan hingga 80 persen dari anggarannya merupakan belanja Pengadaan[1].

Lalu apakah pembedanya?

Pembedanya adalah paradigma yang berkembang di swasta versus di Pengadaan di sektor publik, khususnya sebelum Perpres No.16/2018. Ada satu pemahaman, bahwa Pengadaan barang/jasa, khususnya pada sektor pelayanan publik itu erat kaitannya dengan modus korupsi. Tugas pegiat pengadaan untuk membantu masyarakan move on dari pemahaman lama.

Tragis bagi profesi Pengadaan bila Pengadaan terperangkap dalam pemahaman sempit sebagai sumber biaya (cost center) yang berat pada proses administratif. Parahnya disisi lain Pengadaan juga kadang dituding menjadi proses administratif yang menghambat (bottleneck).

Dengan paradigma demikian Pengadaan hanya menjadi sasaran peningkatan atau pengurangan proses dan prosedur administratif. Bila terlalu kaku, terkena proses debottlenecking, bila terlalu luwes terkena peningkatan ketaatan proses dan prosedur.

Ide bahwa Pengadaan itu sejatinya buruk dan perlu dicurigai perlu diubah. Filosofi pada Perpres 16/2018 adalah agar pengadaan menjadi proses yang perlu digawangi oleh profesional Pengadaan yang kompeten yang didorong dengan misi pertambahan nilai pada seluruh rantai nilai. Tidak berhenti disitu, profesionalisme memiliki karakter integritas, etika profesi, dan kehati-hatian dan perlu didukung dengan ekosistem yang kondusif apabila potensi pertambahan nilai ingin tercapai.

Pengadaan hanyalah satu proses dari rangkaian proses lingkar akuisisi.  Dari perspektif manajemen rantai pasok, cakupan lingkar akuisisi cukup luas mulai dari perencanaan anggaran, manajemen rantai pasok, pembayaran, hingga manajemen asset dan kemitraan dengan penyedia. Semua yang terlibat dalam lingkar akuisisi ini perlu dirangkul sebagai mitra dan pegiat pengadaan karena memang ekosistem penunjang utama dari pengadaan yang profesional, akuntabel, dan modern. Ujung-ujungnya bila potensi pengadaan terrealisasi dan ‘naik kasta’ jadi fungsi yang strategis, seluruh rantai nilai mendapat manfaat. Lepaskan simpul ikatan-ikatan penghambat potensi dan rangkul para pemangku kepentingan sebagai mitra agar ide lama bergeser dengan ide baru.

Lihat Bagian Kedua: “Procurement as Strategy”

[1] Cited in: http://www.ukvisionstrategy.org.uk/sites/default/files/dh_125076%20%281%29.pdf ; https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20170127165501-185-189533/era-digital-pengadaan-barang-pemerintah/ ; https://www.mckinsey.com/industries/travel-transport-and-logistics/our-insights/buying-and-flying-next-generation-airline-procurement

 

Leave a Reply